Berbagi Peran Lewat Lakon "Kambing Hitam"


NK Gapura

Kadang, ada juga kawan yang serampangan membuat tuduhan. Baginya, mungkin hanya joke. Tapi bagi saya, nyelekit. Misalnya, hanya karena jarang memposting catatan sederhana, saya dituding sudah "masuk angin". Saya rasa ini musti dilawan.

Yang sedikit berubah, dari saya, sudah jarang memposting catatan sederhana. Itu saja. Bukannya saya tak lagi menulis. Tapi karena saya tahu betul dampaknya. Anginnya akan kencang berhembus.

Catatan sederhana ini, bisa dikata main aman. Karena, kata seorang kawan, isi catatan ini terlalu biasa. Lumrah adanya. Tapi ya sudah, apa mau dikata. Posting saja.

Dalam setiap lingkaran kekuasaan, katanya, selalu ada Kelompok Non Struktural. Mereka punya kemampuan untuk mengusulkan "kebijakan" dan aktif "bekerja".

Kata bekerja, sengaja saya sisipi dengan tanda kutip dua. Publik yang pernah mendengar frasa proyek pemerintah, saya yakin pasti paham. Katanya, mereka berada di "daerah basah" itu.

Seorang kawan, menambahkan, mereka ini bisa menjadi penentu keputusan. Mereka juga bisa menjadi pintu doraemon untuk menyelesaikan mentoknya lobi---legal--administrasi.

Kadang, kalau sedang iseng-isengnya, mereka mengusik hirakri pemerintahan. Mereka tertawa. Menunggu hasil. OPD-nya bingung.

Dari luar, mereka tampak sakti mandraguna. Seluruh ilmu kanuragan mereka kuasai. Kawan saya, sangat percaya itu. Saya pun ikut-ikutan percaya. Mau bagaimana lagi.

Menariknya, para pemegang kekuasaan merasa punya kekuatan lebih saat memiliki kelompok ini. Untuk tujuan tertentu, keduanya sudah biasa saling "mengkambing hitamkan".

Seorang pahlawan akan berarti, jika ada musuh yang harus diperangi. Kekuasaan dan kelompok non struktural ini, kadang berbagi peran itu. Dengan begitu, termasuk (yang mengaku) sebagai pemegang kekuasaan akan leluasa mengatur seluruh bagian.

Tapi namanya hidup, ada saja cobaan. Bagi mereka, cobaan terberat adalah kepentingan. Karena mereka bukan veteran, bukan pejuang kemerdekaan, maka kepentingan sering menjadi batu sandungan.

Kepentingan berbeda, apalagi berdampak pada jarahan yang tak sama, membuat kelompok ini mudah oleng. Umpama komplotan perampok, jika tidak punya leader yang baik, suara pertengkarannya akan sering sampai ke telinga kita.

Dan, jika kita tidak pernah mendengar apapun tentang mereka, bukan berarti mereka solid. Tapi mungkin saja kita terlalu kuat menutup telinga. Salam.

Gapura, 19 Januari 2022

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 9132888482397934142

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi

Loading....

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Pesan Buku

Pesan Buku

 Serpihan Puisi “Sampai Ambang Senja” merupakan buku kumpulan puisi Lilik Rosida Irmawati, penerbit Rumah Literasi Sumenep (2024).  Buku ini berjumlah 96 halaman, dengan pengantar Hidayat Raharja serta dilengkapi testimoni sejumlah penyair Indonesia.  Yang berminat, silakan kontak HP/WA 087805533567, 087860250200, dengan harga cuma Rp. 50.000,- , tentu bila kirim via paket selain ongkir.

Relaksasi


 

Jadwal Sholat

item
close