Orang-orang Bebal Dalam Sastra


Umar Fauzi Ballah

Mungkin karena bersastra "tidak punya" konsekuensi kerusakan fisik, seperti malapraktik di dunia kesehatan atau tidak punya risiko digoblokkan kalau salah hitung seperti dalam matematika, maka beberapa orang merasa dirinya baik-baik saja dan merasa tidak berdosa ketika tulisannya atawa karyanya atawa pandangan-pandangan tentang sastra sebenarnya mengandung kesalahan-kesalahan. Begitulah kondisi sastra Indonesia saat ini.

Orang-orang menyorong seorang konsultan politik (baca: Denny JA) yang tulisannya jelek didaulat sebagai sastrawan berpengaruh. Seseorang mendaku diri kritikus ternama (baca: Narudin), tetapi esai-esainya hanya lelucon. Seseorang kuliah S-3 sampai ke Rusia (baca: Iwan J.K.) yang karena menulis puisi menggunakan karbit menghina seorang penulis tanpa membaca karyanya. Anehnya, diangkat jadi juri dan redaktur puisi. Seseorang menjual jurus kibul menulis novel dalam satu menit (baca Kindi), padahal cuma  voice note. (Oh Allah... Saya ketawa dulu)

Publik sastra marah. Namun, mereka bebal minta ampun. Tetap dianggap berpengaruh karena disogok. Tetap dianggap kritikus karena meminta kata pengantar darinya. Tetap dianggap redaktur puisi karena S-3 di Rusia. Dan, tetap jualan jurus satu menit karena menganggap definisi buku sudah bergeser.

Sangat mudah membaca kekonyolan mereka. Andai itu peristiwa fisik, mungkin mereka akan insaf dan semua orang tahu itu kesalahan fatal. Namun, karena hal itu agak gaib, nggak terasa bahwa ada kebodohan yang dilanggengkan. Nggak terasa ada malapraktik.

Mereka jelas-jelas pekok, tetapi dapat tempat karena masyarakat masih miskin literasi. Yang kayak-kayaknya sudah hebat saja, ternyata dalam pandangan seorang suhu (baca: Nuruddin Asyhadie) dianggap goblok, apalagi mereka yang bebal itu 🤣.

Sastra Indonesia aliran bebalisme sepertinya muncul dengan kedok puisi pascakontemporer. Puisi pascakontemporer produknya puisi esai. Semuanya bisa ditulis dalam satu menit. Mereka jelas-jelas melakukan malapraktik. Buktinya, mereka dirisak sedemikian rupa. Namun, karena bebal, ya tetap merasa gagah.

Akun FB:   Umar Fauzi Ballah

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 5403156608137658847

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi

Loading....

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Pesan Buku

Pesan Buku

 Serpihan Puisi “Sampai Ambang Senja” merupakan buku kumpulan puisi Lilik Rosida Irmawati, penerbit Rumah Literasi Sumenep (2024).  Buku ini berjumlah 96 halaman, dengan pengantar Hidayat Raharja serta dilengkapi testimoni sejumlah penyair Indonesia.  Yang berminat, silakan kontak HP/WA 087805533567, 087860250200, dengan harga cuma Rp. 50.000,- , tentu bila kirim via paket selain ongkir.

Relaksasi


 

Jadwal Sholat

item
close