Dinamika Bahasa di Pesantren
Selain bahasa lokal (Jawa, Sunda, Madura, dll), sesungguhnya "bahasa resmi" di pesantren adalah bahasa Arab. Pesantren tak menciptakan bahasa sendiri -- hanya meminjam bahasa-bahasa yang telah tersedia. Setelah masa Kemerdekaan, bahasa Indonesia kian mengemuka menjadi bahasa yang umum dipakai di pesantren.
Bahasa lokal, bahasa Arab dan bahasa Indonesia di pesantren digunakan sesuai konteks atau kebutuhan. Bahasa ilmu pengetahuan di pesantren adalah bahasa Arab, juga demikian bahasa dalam ritus religius. Bahasa lokal masih bertahan untuk memaknai kitab-kitab kuning dan interaksi internal keluarga pesantren. Bahasa Indonesia juga kerap dipakai ketika menjelaskan isi kitab-kifab kuning dan dalam pergaulan antar-warga pesantren. Hanya dalam ritus religius, misalnya shalat, bahasa Indonesia tak digunakan sama sekali -- sepenuhnya berbahasa Arab.
Kitab-kitab berbahasa Arab maupun berbahasa lokal kian banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia -- dengan beragam kadar mutu terjemahan. Kitab-kitab terjemahan ini menjadi industri tersendiri dan menciptakan lapisan baru pembaca kitab. Kitab tasawuf semisal Hilyatul Auliya karya Nuaim al-Asfahani pun diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebanyak 26 jilid. Kitab-kitab berbahasa Arab, yang tipis maupun tebal, yang umum dipelajari di pesantren sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Demikian pula kitab-kitab berbahasa lokal.
Bahasa Indonesia kian dominan dalam dinamika kepesantrenan saat ini, juga dalam tradisi susastra orang-orang pesantren sekarang.. Orang-orang pesantren telah berkontribusi besar dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Bukan berarti tak ada lagi orang pesantren saat ini yang menulis karya berbahasa lokal maupun bahasa Arab meski minoritas dalam kuantitas.
·
Pilihan